by Made Teddy Artiana, S. Kom
“Luasnya kuburan di Tanah Kusir yang notabene hanya 1x2 meter, nilainya jauh lebih mahal dari sebuah rumah paling mewah di Pondok Indah”.
Ketika kembali membuka-buka bundel Majalah Marketing edisi Agustus 2011, kalimat-kalimat tersebut melompat kembali kepermukaan. Kalimat yang ditulis oleh Bpk. Mindiarto Djugorahardjo, seorang pakar Selling Theraphyst yang telah dikenal luas dan merupakan salah satu kolumnis di Majalah Marketing, dalam sebuah artikel berjudul “The Power of Trigger”. Menggugah kesadaran, sarat makna. Beliau berbicara soal : manfaat yang kita hasilkan dan wariskan bagi orang lain.
Tiba-tiba saja aku teringat seseorang di Bangladesh sana. Seseorang, yang karena jasa-jasanya melawan kelaparan dan kemiskinan, kemudian mendapatkan cinta dan penghormatan yang tulus dari berjuta-juta orang tidak hanya dinegaranya, namun juga diseluruh dunia. Muhammad Yunus namanya. Pahlawan yang memberantas kemiskinan dan kelaparan di negaranya. Pendiri Grameen Bank (Bank for The Poor). Berkaca dari kehidupan beliau tampak jelas bahwa beliau telah menggunakan pengetahuan dan hidupnya untuk mendatangkan manfaat yang riil bagi orang banyak.
Lalu, bagaimana dengan kita? Harus jujur diakui, seringkali pertempuran kita dalam hidup ini sebagian besar atas nama 2 hal. Untuk bertahan hidup dan untuk mengejar kesuksesan. Sangat jarang ada tempat untuk ‘orang lain’ disana.
“Apa keuntunganku?”
“Apa yang aku dapatkan?”
“Apa yang menjadi bagianku?”
Karierku. Bisnisku. Keluargaku. Aku..aku..dan akuuuuu….!
Tidak sepenuhnya salah.
Namun demikian, jika kita mau berhenti sebentar dan melakukan perenungan, maka tidak sulit untuk menemukan bahwa : ternyata keadaan kita hari ini tidak pernah terlepas dari ‘menikmati manfaat’ dari mereka-mereka yang telah memberikan sebagian waktu, harta, cinta dan hidup mereka untuk orang lain.
Apakah kita ingin mengerdilkan kemuliaan kita dengan hanya ingin jadi penikmat belaka? Saya percaya tidak.
Jika demikian tidak berlebihan jika satu jam kedepan kita belajar merelakan ke-aku-an kita bagi kehidupan orang lain.
Sebarkan kebaikan kesegala penjuru..!
Tinggalkan jejak kebaikan dimanapun kita pernah melangkah..!
Usahakan manfaat tidak hanya bagi diri kita sendiri, namun juga bagi sebanyak mungkin orang lain..!
Karena memberi manfaat adalah pondasi setiap kehidupan yang berkualitas.
Semoga kita sadar bahwa hidup ini adalah pemberian dan sama sekali bukan milik kita. Semoga kita selalu sadar bahwa hidup ini pada ujungnya nanti, di tempat sejenis Tanah Kusir, semuanya akan berakhir dan harus dipertanggungjawabkan. Semoga kita belum terlambat. Semoga TUHAN masih berbaik hati, memberikan kita waktu. Semoga. (*)