Sabtu, 18 Februari 2012

Tanah Kusir vs Pondok Indah


by Made Teddy Artiana, S. Kom


“Luasnya kuburan di Tanah Kusir yang notabene hanya 1x2 meter, nilainya jauh lebih mahal dari sebuah rumah paling mewah di Pondok Indah”.

Ketika kembali membuka-buka bundel Majalah Marketing edisi Agustus 2011, kalimat-kalimat tersebut melompat kembali kepermukaan. Kalimat yang ditulis oleh Bpk. Mindiarto Djugorahardjo, seorang pakar Selling Theraphyst yang telah dikenal luas dan merupakan salah satu kolumnis di Majalah Marketing, dalam sebuah artikel berjudul “The Power of Trigger”. Menggugah kesadaran, sarat makna. Beliau berbicara soal : manfaat yang kita hasilkan dan wariskan bagi orang lain.

Tiba-tiba saja aku teringat seseorang di Bangladesh sana. Seseorang, yang karena jasa-jasanya melawan kelaparan dan kemiskinan, kemudian mendapatkan cinta dan penghormatan yang tulus dari berjuta-juta orang tidak hanya dinegaranya, namun juga diseluruh dunia. Muhammad Yunus namanya. Pahlawan yang memberantas kemiskinan dan kelaparan di negaranya. Pendiri Grameen Bank (Bank for The Poor). Berkaca dari kehidupan beliau tampak jelas bahwa beliau telah menggunakan pengetahuan dan hidupnya untuk mendatangkan manfaat yang riil bagi orang banyak.

Lalu, bagaimana dengan kita? Harus jujur diakui, seringkali pertempuran kita dalam hidup ini sebagian besar atas nama 2 hal. Untuk bertahan hidup dan untuk mengejar kesuksesan. Sangat jarang ada tempat untuk ‘orang lain’ disana.

“Apa keuntunganku?”

“Apa yang aku dapatkan?”

“Apa yang menjadi bagianku?”

Karierku. Bisnisku. Keluargaku. Aku..aku..dan akuuuuu….!

Tidak sepenuhnya salah.

Namun demikian, jika kita mau berhenti sebentar dan melakukan perenungan, maka tidak sulit untuk menemukan bahwa : ternyata keadaan kita hari ini tidak pernah terlepas dari ‘menikmati manfaat’ dari mereka-mereka yang telah memberikan sebagian waktu, harta, cinta dan hidup mereka untuk orang lain.

Apakah kita ingin mengerdilkan kemuliaan kita dengan hanya ingin jadi penikmat belaka? Saya percaya tidak.

Jika demikian tidak berlebihan jika satu jam kedepan kita belajar merelakan ke-aku-an kita bagi kehidupan orang lain.

Sebarkan kebaikan kesegala penjuru..!

Tinggalkan jejak kebaikan dimanapun kita pernah melangkah..!

Usahakan manfaat tidak hanya bagi diri kita sendiri, namun juga bagi sebanyak mungkin orang lain..!

Karena memberi manfaat adalah pondasi setiap kehidupan yang berkualitas.

Semoga kita sadar bahwa hidup ini adalah pemberian dan sama sekali bukan milik kita. Semoga kita selalu sadar bahwa hidup ini pada ujungnya nanti, di tempat sejenis Tanah Kusir, semuanya akan berakhir dan harus dipertanggungjawabkan. Semoga kita belum terlambat. Semoga TUHAN masih berbaik hati, memberikan kita waktu. Semoga. (*)

Selasa, 17 Januari 2012

Ikut Bergetar


by Made Teddy Artiana




Wanita itu menyentuh gagang kacamatanya. Lelaki dihadapannya melakukan hal serupa. Ketika bicara, beberapa kali wanita itu mengusap bagian atas rambutnya, lelaki itu juga melakukannya. Caranya menggenggam pensil, melirik kekanan dan kekiri, memiringkan kepala, duduk tegak bahkan berdehem, semuanya diikuti oleh laki-laki dihadapannya dengan demikian alami. Tidak berapa lama, karena sesuatu yang tidak disadari, wanita itu merasa sebuah kedekatan dengan laki-laki dihadapannya. Kekakuanpun mencair. Aneh tapi nyata.


Seorang pembicara marketing, yang cukup terkenal (yang perusahaannya sempat menjadi kompetitor perusahaan kami “Tjampuhan Indonesia” dalam sebuah tender) memperkenalkan kejadian diatas dengan nama : resonansi. Kita tahu, dalam ilmu fisika, resonansi adalah peristiwa turut bergetarnya sebuah benda (yang sebenarnya dalam keadaan diam), karena frekuensi yang sama dengan benda yang digetarkan. Sedangkan resonansi yang dimaksud oleh sang pembicara marketing itu adalah kemampuan kita menyatukan frekuensi dengan orang lain. Dalam dunia marketing, ‘orang lain’ tentunya mengacu terutama ke ‘client’ atau ‘prospek’ kita.Namun itu bukanlah sebuah hal baru.


Anthony Robbins dalam Unlimited Power, menyebut hal diatas dengan usaha membangun rapport (diterjemahkan : simpati). Teorinya demikian, ketika kita meniru keadaan fisiologis seseorang, dengan alami tentunya, seringkali kita akan bisa mengakses representasi internal (perasaan, pikiran dsb) orang tersebut saat itu.

Lain Robbins, lain pula dengan Malcolm Gladwell. Dalam salah satu bukunya (Blink : The Power of Thinking Without Thinking), memperkenalkan sebuah istilah menarik : mendengarkan dengan mata. Ternyata, jika saja kita bisa lebih sensitif, bahasa tubuh, raut wajah, senyum, nada suara, sorot mata, bahkan tulisan..kata perkata..berbicara sama kuat dengan bahasa.


Dan seandainya Anda sudah terlatih atau memiliki kepekaan yang dalam, maka penipu paling ulungpun, sangat sulit untuk memalsukan seluruh variabel itu dengan sempurna dihadapan Anda. Karena semuanya –yang tampak bisu- sebenarnya sedang berbicara.


Lalu, buat apa berlelah-lelah mengetahui itu semua? Buat apa membangun jembatan dan memasuki dunia orang lain? Apa gunanya berepot-repot ria membangun rapport?


Kenyataannya : tidak banyak yang ingin melakukannya. Alasannya? banyak. Sibuk, ribet, gak penting dsb.


Sebagian lagi lebih suka mendobrak pintu dunia orang lain dengan segenap kepentingan, keangkuhan, kekakuan dan intimidasi yang kita miliki, lalu menyeret orang-orang itu keluar dan memaksa mereka memainkan aturan main milik kita. Persis cara-cara yang diterapkan oleh para penjajah jaman dulu.


Agak berkebalikan dengan hal diatas, sebagian orang yang memang terlahir dengan kepedulian (empati) yang besar terhadap sesama, terlepas dari sedatar apapun ekspresi wajah mereka. Biasanya mereka ini memiliki kepekaan yang menyatu dalam diri mereka, yang membuat mereka dengan lebih mudah memahami, memaklumi lalu bersimpati dengan keadaan sekitar.


Kemudian bagaimana dengan dunia profesional ?


Para marketer sejati, tentunya tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Demikian juga para psikolog dan fotografer ;) Membangun jembatan dengan orang lain penting buat mereka.


Faktanya...tidak ada manusia (yang hidup tentunya) yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dan karena setiap orang memiliki ‘kerajaan’ dan ‘dunia’ masing-masing, sepertinya kita semua harus belajar bagaimana cara elegant memasuki wilayah siapapun. Bukan hanya atas nama keuntungan materi semata-mata, namun sesuatu yang jauh lebih mulia dari semua itu. Bahwa ketika kita sanggup memaklumi orang lain, seketika itu juga hati kita meluas permukaannya. Kemudian jiwa kita memperoleh tambahan kekuatan dan kearifan. Perspektif baru dibukakan. Perbedaan pun bukanlah menjadi jarak. Serta yang paling penting, hadiah berupa persahabatan tulus yang menyegarkan.


Selamat belajar menyamakan frekuensi dengan ‘dunia lain’;) **



warm regards,


MTA

fotografer, penulis & praktisi IT

penulis novel "Balada 13 Pembantu Rumah Tangga (yang pernah bekerja di rumah kami)"




Minggu, 04 September 2011

KELAMIN dan MONYET

by Made Teddy Artiana



Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung ke Gramedia Matraman, untuk mencari sebuah buku, yang menurut referensi teman, cukup unik. Hitung-hitung mengisi waktu libur.

"Apa judul bukunya Mas?", tanya si mbak, lantaran kasihan melihatku yang rada kebingungan di rak buku.
"Bukunya Djenar Maesa Ayu, Mbak", jawabku datar tak menoleh.
"Judulnya...", tanyanya ulang, sambil berjalan mendekatiku.
"Itu..yang kumpulan cerpen. Cover bukunya warna merah".
Aku masih berusaha tak menyebutkannya.
"Iyaaa..judulnya Massss ?", kejar si mbak penasaran.
Rupanya tidak ada jalan lain. Akupun tersenyum iseng. Ok kalau itu yang kau mau.
Sambil menatapnya lekat-lekat, sengaja dengan perlahan aku bilang : "JANGAN MAIN-MAIN DENGAN KELAMINMU".
Wajah si mbak langsung bersemu merah...


(*)

Keesokan harinya kejadian kemarin berulang. Temanku baru bilang, ada satu buku lagi karangan Djenar Maesa Ayu, yang harus kubaca. Kenapa gak sekalian, ujarku sedikit kesal. Dan akupun kembali ke tempat yang sama, kebetulan pada jam yag sama.

"Eh, Si Mas yg kemarin", sapa Si Mbak itu malu.
Astagaaa…dia lagi, bathinku dalam hati. Sejujurnya aku berharap tidak bertemu dengannya kali ini.
"Nyari bukunya Djenar lagi ya?", tanya wanita berwajah manis itu ramah.
Walau ingin menggeleng, tidak sadar kepala ini mengangguk.
"Judulnya beda dong dari yang kemarin ?".
Aku ngangguk pasrah.
"Judulnya Mas?"
Aku berkilah,"Biar saya cari sendiri".
Tapi dia keukeh.
"Sini Dewi bantu..”, ujarnya sambil memperkenalkan diri, “..judulnya?".
Ya Tuhan, apa tidak ada orang lain di tempat ini.
“Massss….”.
Pengen kabur rasanya.
"Mas, judulnya?".
Sambil menggaruk-garuk kepala kusebutkan judul buku itu.
“MEREKA BILANG SAYA MONYET"



Sabtu, 27 Agustus 2011

Letakkan Sejenak Gelas di Tanganmu

Oleh : Made Teddy Artiana


Lelaki itu mengangkat gelas berisi air di tangannya. Mengambang di udara. Sementara, sekian banyak orang di hadapannya tampak mengisyaratkan ketidakmengertian. Para pendengar memilih untuk bersabar. Menunggu dalam diam. Tidak ada yang terjadi, selain gelas yang terangkat dan mata yang tertuju ke gelas itu. Namun, beberapa saat kemudian sesuatu mulai terjadi. Kepalan tangan laki-laki itu tampak semakin erat. Gelas dan air mulai bergetar. Perlahan tapi pasti, getarannya bertambah kuat. Urat tangan kian terlihat jelas bermunculan. Gelas itu berguncang hebat dan air yang mengisinya mulai tumpah. Hingga kemudian...tangan lelaki itu terkulai...prang!! Gelas lepas dari genggaman, dan berkeping-keping menumbuk lantai.

“Beban seringan apapun, jika terus-menerus dipegang, akan menjadi beban yang tidak sanggup kita tanggung”, ujar laki-laki bijak itu dengan tenang namun sangat serius. Stephen Covey, sang pencetus “Seven Habits” sedang ingin mengajarkan tentang sesuatu.

Jeffrey Rahmat, seorang pembicara dan pengajar dalam hal-hal praktis dan bisnis dari sudut rohani kristen, pernah berkata kepadaku. “Segala sesuatu mempunyai kapasitasnya sendiri-sendiri. Dan apapun, yang digunakan melewati kapasitasnya akan macet, tidak berjalan dan rusak”. Ia mengambil lift sebagai salah satu contoh. Dalam setiap lift tentu kita menjumpai sebuah petunjuk tentang seberapa “kuat” benda itu mampu mengangkat beban. Jika overweigth, maka dapat dipastikan ia tidak akan beroperasi, rusak bahkan bukan tidak mungkin, putus dan hancur.

Jamil Azzaini, sahabat, guru dan panutan bagi banyak orang. Salah seorang yang kuanggap sebagai penterjemahku dalam memahami dunia islam yang mulia, mengatakannya dengan cara lain. “Hidup dan pengejaran kita terhadap cita-cita dan sukses mulia, kadang terasa bagai arena balapan mobil. Dimana disalah satu kesempatan, semua itu mengharuskan kita untuk memasuki sesuatu bernama Pitstop. Sebuah fase dimana mobil, “beristirahat sesaat” lalu dicek segala sesuatunya, sebelum kemudian digunakan kembali.

Lalu Gede Prama, seorang Rsi di dunia modern, mengajarkan tentang “memberi kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Sang Diri”. Menemukan dan menikmati hidup yang sesungguhnya dalam alam, diri dan TUHAN.

Keempat orang bijak itu tengah berbicara hal yang sama : Hukum Kapasitas.

Bahwa segala sesuatu memiliki kapasitasnya sendiri-sendiri, tak terkecuali manusia. Hati, pikiran dan tubuh kita memiliki kapasitas. Dan pengejaran kita –entah terpaksa untuk sekedar bertahan hidup atau memang disengaja, karena sebuah cita-cita- membuat kita seperti berada dalam sebuah arena balap. Semuanya tak jarang membuat manusia termuati melebihi kapasitas yang seharusnya.

Uniknya, tidak banyak dari kita sadar akan hal itu. Kita sibuk dan disibukkan oleh sekitar. Hingga tidak tersisa waktu, untuk sekedar bercakap-cakap dengan diri sendiri, apalagi Sang Pencipta. Kontemplasi yang adalah kebutuhan dianggap aneh dan hanya porsi para Rsi.

Kita terlalu takut untuk meletakkan sejenak gelas di tangan kita. Mungkin kita kuatir ada seseorang yang akan menyambar gelas itu, begitu diletakkan. Mungkin kita merasa segala kesibukan itu demikian berarti hidup-mati, sorga-neraka buat kita. Atau bisa jadi kita mengganggap tidak cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang tampak remeh, untuk me-refresh diri. Tidak ada yang sadar pasti tentang keadaan diri masing-masing. Mungkin hanya TUHAN, Malaikat dan Setan yang tahu, sementara kita sendiripun terkurung kesibukan.

Satu hal yang pasti : gelas itu, jika tidak diletakkan pasti akan jatuh dan hancur berkeping-keping.

Happy weekend guys...(*)

I "Still" Believe I Can Fly !!

by Made Teddy Artiana


Wanita yang mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan itu, kini terbujur nyaris kaku. Bayinya selamat, namun ia sendiri sekarat. Terjebak diantara dua dunia. Telah beberapa hari dilewatinya dalam keadaan koma, tak sadarkan diri. Tubuh dingin membeku. Wajah pucat membiru. Sementara bibir yang telah lebih dulu membiru itu, kini tampak memutih, nyaris sama putih dengan dinding ICU di Rumah Sakit itu.

Suasana ruangan itu memang tidaklah terlalu sunyi, namun sangat mencekam. Denyut jantung terdengar lemah, diantara isak tertahan. Ayah, ibunda, dan seluruh keluarga yang sudah kehabisan air mata dan doa, menunggu pasrah. Semua kepala tertunduk dengan mata-mata bengkak sembab karena lelah menangis. Tak ada yang dapat dilakukan, selain menunggu. Setidaknya jika hal itu terjadi, mereka ada disini. Menemani saat-saat terakhirnya.
Team dokterpun sudah menyampaikan kata-kata pamungkas mereka : “Kami sudah berusaha dengan sebaik mungkin, akan tetapi...”. Seolah dalam sebuah persidangan, keputusan akhir telah ditetapkan, tinggal ketukan palu penutup.

Pada saat-saat inilah tampak jelas garis kedaulatan Sang Pencipta. Manusia boleh meminta apa saja, tetapi TUHAN, yang akan menentukan apa yang harus terjadi.
Dan sesuatu itupun terjadi..

Jari jemari wanita itu bergerak lemah. Hampir tak terlihat. Namun mata hati seorang Ibu, mampu menangkapnya.

“Lina..bergerak !!!”, teriak Ibunda. Seketika itu semua orang yang ada disana terperanjat. Semua memperhatikan jari-jemari Lina. “Iyaaa..dia bergerak !!!”, teriak Sang Adik dengan mata sembab,”Dokterrr....!! Dokter..!!! Kak Lina dokterrrr..!!”. Ia menghambur keluar ruangan mencari dokter. Linapun membuka matanya perlahan. Lingkaran kerabat yang tadi mengurubung itu, sekarang memberi jalan team dokter yang telah tiba diruangan.
“Selamat siang, Lina”, ujar lembut salah seorang dokter sembari tersenyum, “Welcome back, Madame”. Lina terdiam, menatap lurus kedepan.

Hanya dalam hitungan jam, Linapun seutuhnya sadar. Beberapa kali Dokter masuk keluar memeriksa keadaannya. “Alhamdulilah, keadaan Lina membaik. Semakin membaik”.
Keesokan harinya, seolah diperintah oleh sesuatu, ketika terbangun Lina segera meminta Black Berry nya. Mereka saling berpandangan tak mengerti, namun Ibunda Lina memberikan isyarat agar mereka mengabulkan permintaan Lina. Dengan tak sabar Lina meraih benda itu dari adiknya, sepertinya ada yang ia cari. Matanya terpaku sejenak. Tampak jelas ia menemukan sesuatu disana. Wanita perkasa yang telah mengarungi berbagai badai kehidupan yang luar biasa itu pun mulai menangis. Sementara keluarganya hanya bisa terpaku diam menyaksikan tingkah Lina. Ada apa gerangan ?

Dengan bibir tergigit dan pipi yang dibiarkan basah kuyub oleh air mata, jemari Lina gemetar mengetik kalimat demi kalimat.

“Kalian tahu, kata mereka sudah 4 hari lebih aku koma. Aku hampir menyerah. Aku menyesal kembali ke dunia ini lagi. Tapi entah mengapa, aku ingin melihat kalian dan ketika membaca tulisan status kalian, air mata ini tumpah. Tiba-tiba, aku mengingat percakapan kita dulu : bahwa manusia dilahirkan membawa misi. Bahwa kita, manusia ditakdirkan untuk menang atas segala persoalan hidup. Ini pertama kalinya aku menangis setelah sadar. Air mata ini untuk kalian. Aku harus hidup!!”.

Lalu mengirimkan pesan itu kepadaku dan istriku.

Pesan dari Kuala Lumpur itupun kami sambut dengan air mata. Kami memang sedang berdoa siang malam untuknya. Kami tahu ia tengah bertarung hidup dan mati disana. Kami memang berjanji mengunjunginya setelah melahirkan, tetapi kesibukan menahan langkah kami di Jakarta. Dan entah karena apa, hari itu wajah Lina nampak lekat dipikiran kami. Lalu tanpa sengaja aku menuliskan status ‘I Believe I Can Fly’ di BB ku.

Dan selanjutnya –cerita ini kami dengar sendiri dari orang tua Lina- dalam pelukan Ibunda tercinta, dan derai air mata, Lina berteriak sekuat tenaga. Sebuah deklarasi bak sangkakala di medan perang : “Aku harus hidup Ma..! Aku harus merawat anak-anakku ! Mereka membutuhkan aku !!”
(*)

Sebuah "Tapa Bratha Nyepi" yang Tak Disengaja


by Made Teddy Artiana



Bagi mereka yang belum pernah melewatkan malam nyepi di Bali, maka hari ini adalah hari tergelap dan tersunyi di Bali.
Seluruh lampu diseluruh penjuru Bali padam, tidak boleh ada seorangpun keluar rumah dan bunyi-bunyianpun dilarang..

Catatan ini kutulis dalam gelap gulitanya malam Nyepi. Ketika mata ini tidak juga dapat terpejam, meskipun malam sudah sangat larut.

Sama sekali bukan karena aku tidak terbiasa tidur dalam gelap, namun karena kegelapan yang sekarang sedang menaungi seluruh Bali ini sungguh-sungguh bermakna “gelap” dalam arti sebenar-benarnya. Tidak ada cahaya manapun yang sanggup menuntun mata ini untuk sekedar menghibur hati.

Karena kegelisahaan ini semakin menjadi-jadi, kuputuskan untuk membangunkan kembali laptop tercinta...that’s what friends are for.

Aku tidak sedang melakukan Tapa Bratha, yang memang dilakukan oleh saudara-saudaraku umat Hindu pada saat malam, di Hari Raya Nyepi. Tidak bisa tidur, hanya itu persoalanku. Dan dalam kegelapan yang benar-benar pekat ini, agak susah membedakan apakah mata ini sudah terpejam, ataukah memang belum terpejam. Hampir tidak ada bedanya. Karena memang sama-sama hitam pekat.

Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa sangat tidak berdaya. Jangankan makan, untuk berjalanpun jadi tidak seleluasa dulu. Beberapa insiden menjengkelkan melengkapi nya. Benjut karena terantuk kursi makan, itu yang pertama. Kemudian betapa sulitnya menggunakan senter menemukan dimana aku meletakkan kameraku tadi. Lalu yang tidak kalah menjengkelkan adalah BB yang tidak sengaja tertendang olehku.
Dan konyolnya lagi..sedari tadi aku berusaha keras membesarkan mata ini selebar-lebarnya..hanya untuk melihat telapak tanganku sendiri...mudah ditebak : gagal maning..Son..gagal maning.

Kegelapan membuat kita merasa tidak berdaya. Mirip dengan keterbatasan yang kerap kali membuat kita terdiam pasrah, tidak tahu harus berbuat apa. Kendali yang kita kira tergenggam erat ditangan ini ternyata semu belaka. Ternyata, dalam gelap kita semua bagaikan orang-orang bodoh yang begitu bingung ingin berbuat apa.
Agaknya kegelapan juga mengandung kesamaan yang demikian kuat dengan kehidupan. Keterbatasan yang sama. Ketidaktahuan serupa. Sehingga tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Hendak kemana hidup dan kehidupan ini bergerak. Bahkan, apakah kita masih bernyawa dalam satu menit kedepan pun, tidak ada satu orang hebatpun dapat memastikannya.

Ternyata kita semua berdiri dalam gelap. Bodoh dan tidak tahu apapun !

Sangat mengherankan jika selama ini kita merasa tahu segalanya. Membusungkan diri atas nama pengejaran atas segala ambisi, seolah-olah masa depan itu adalah milik kita. Seolah-olah adalah sebuah kepastian, bahwa semua kerja susah payah kita itu akan kita nikmati dikemudian hari. Seolah-olah kita penguasa kehidupan kita sendiri, padahal we know nothing about our future ! Hanya kemarin yang kita miliki, sementara detik pertama setelah sekarang adalah misteri.

Aku jadi teringat sebuah untaian syair seseorang yang kurang lebih berbunyi demikian : “Suruhlah terang dan kesetiaan Mu itu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung Mu yang kudus.”

Betapa benarnya syair tersebut.

Dalam kegelapan, ketidatahuan dan misteri hari depan ini, kita sangat membutuhkan terang dan kesetiaan Sang Khalik untuk dapat berjalan. Terang, karena memang tanpanya kita akan selalu berjalan dalam gelap gulita kesana kemari tak tentu arah. Kesetiaan, karena memang dibutuhkan kesabaran ilahi untuk menuntun orang-orang seperti kita ini. Orang-orang buta sombong yang tidak pernah menyadari kebutaannya.

(.....menarik nafas panjang.....)

Kini saatnya menghentikan tulisan ini lalu bersujud penuh kesadaran dihadapan Dia Yang Maha Tahu, sambil berbisik memohon : “Suruhlah terang dan kesetiaan Mu itu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung Mu yang kudus”.

Terima kasih TUHAN untuk sebuah malam magis yang luar biasa ini..setidaknya aku belajar banyak justru dalam kegelapan. Disaat sepasang mata lahiriah kesulitan untuk melihat, maka mata hatipun mengambil alih tugas tersebut.(*)

“Aku harus bayar berapa sih untuk tidur sama kamu !?”


by Made Teddy Artiana





Terus terang aku penasaran, apa coba reaksi orang mendengar pertanyaan diatas ? pastinya beragam.

Jika almarhum Jus Badudu (pembawa acara Bahasa Indonesia di TVRI zaman doeloe) masih ada, tentu beliau menjawab: tergantung siapa subjek, predikat, objek dan keterangan tempat dan waktu yang menyertainya. Always EYD..hehehe..tapi jelas beliau ada benarnya J

Pertanyaan ini terasa agak menggelikan, ketika berasal dari seorang istri yang saking jengkelnya dengan sang suami yang karena terlalu sibuk mengurusi bisnisnya, sampai-sampai hampir tidak pernah tidur di rumah. Sehingga istri tersebut merasa perlu untuk membayar suaminya yang pecicilan, hanya untuk sekedar ‘diam’ di rumah.

Namun reaksinya jelas berbeda, ketika seorang wanita yang sama sekali tidak kami kenal, menelpon Wida, istriku, lalu meminta bantuan untuk menyuruh teman SMP nya, yang kebetulan laki-laki, yang juga tidak pernah kami kenal, untuk berhenti mengganggu wanita ini, dengan pertanyaan kasar diatas. (Sejauh ini kami percaya dia salah alamat)

Yang paling seru dan dahsyat, adalah jika pertanyaan ini datang dari seorang wanita, kawan lama atau kenalan, yang pada suatu saat menatap kita, para lelaki anugerah bagi kaum wanita ini, demikian serius, lalu tanpa ragu sedikitpun bertanya dengan wajah memelas : “Aku harus bayar berapa sih untuk tidur sama kamu !?”

Dijamin, laki-laki paling paling hidung belang sekalipun, tentu akan terdiam takjub sesaat mendengar pertanyaan tersebut. Ha..ha..ha..ha..

Tapi dipikir-pikir..pertanyaan kurangajiiiarrr diatas menarik juga. Kata ‘berapa’ dan ‘bayar’ serta merta mengacu pada ‘harga’.

Segala sesuatu memang memiliki harganya masing-masing. Bahkan sesuatu yang terlihat tidak berharga sekalipun, bisa jadi akan menjadi demikian berharga jika ditempatkan disuatu waktu dan tempat tertentu. Air dipadang gurun. Garam dihutan. Kerikil waktu dikejar anjing. Kecoak buat ikan Arwana.

Nah, jika itu terjadi pada benda atau binatang, tentu hal yang sama dapat diberlakukan kepada kita, manusia. Dan tiga contoh nyeleneh diatas, sedikit banyak dapat menggambarkan hal tersebut, bahwa : kita semua punya harga.

Pembicara punya harga. Fotografer punya harga. Dosen, anggota DPR, dokter, office boy, apalagi PSK..pastinya punya harga. Tetapi bukan ‘harga’ dalam arti sesimpel itu tentunya. Harga yang dimaksud, adalah harga manusia, yang berkaitan dengan hidup ini dan tentunya siapa Pencipta-nya.

Disana justru letak permasalahannya. Persoalannya, kita tahu gak sih harga kita ? Dan seandainya saja tahu, berapa sih kita hargai diri kita ini ?
Untuk itu, sebuah karya fenomenal dari Victor Hugo terasa sangat mewakili, Les Miserable, yang telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Itu produk asing, berhubung kita harus mencintai ‘ploduk-ploduk dalem negri’, aku lebih memilih sebuah uraian dari Jeffrey Rahmat, yang aku anggap sangat mewakili harga manusia.

Jeffrey Rahmat, seorang pembicara di dunia business, yang kebetulan pendeta, dalam sebuah seminar yang aku hadiri, pernah berkata demikian : “TUHAN, Sang Pencipta sangat tahu betapa berharganya manusia itu, karena memang manusia diciptakan menurut gambar/peta Ilahi milik-NYA. Setan,Iblis,demit dan golongannya pun tahu persis kebenaran itu, karenanya mereka berusaha memanipulasi harga manusia. Satu-satunya yang bego, yang tidak tahu hal tersebut adalah kita, para manusia itu sendiri !!”.

Bagiku, sejauh orang itu beragama, uraian Jeffrey Rahmat adalah singkat, tepat, jelas. Karena memang bagi orang tak ber-TUHAN, konteks harga manusia..adalah price..fee..cost..hanya sekedar materi. Pikiran-pikiran seperti inilah yang akan melahirkan pertanyaan sontoloyo : “Aku harus bayar berapa sih untuk tidur sama kamu !?”

Tetapi menurut Kitab Suci..

Kita adalah kalifah (pemimpin) ciptaan -NYA.
Kita adalah gambar dan citra Sang Pencipta.
Kita adalah biji mata TUHAN.

Begitu banyak manusia tidak tahu, tidak percaya, lupa ataupun menghargai dirinya demikian rendah, sehingga berlaku sembarangan terhadap dirinya, orang lain dan hidupnya yang hanya sekali ini. Hidup yang hanya sekali...dan harus dipertanggungjawabkan !

So..sebelum kita memutuskan untuk ‘tidur’ dengan siapa, sebaiknya kita sadar betapa berharganya diri dan hidup kita ini, sebelum kita ‘tertidur’ selamanya.

(*)