Sabtu, 27 Agustus 2011

Pandangan Pertama..Awal Aku Berjumpa....teroret..teroret !

by Made Teddy Artiana, S. Kom



Tulisan ini kutulis saat terjebak 3in1 dan terpaksa parkir dan bengong di BNI46, dan tulisan ini terpaksa pula aku awali dengan sebuah pengakuan aneh :
Aku salah satu penggemar A Rafiq.
OK, bagi sebagian orang, pengakuan ini cukup memalukan. Sebenarnya bagiku juga sih..hehehehe

"Elu !? Suka yang begituan ?", tanya salah seorang teman dekat, "nggak salah tuh..?! kontras banget !! hahahahaha"

Tapi apa boleh buat. Aku bukan orang yang terbiasa memanipulasi perasaanku. Bahkan bagi sebagian teman-temanku, aku extrovert. Sangat terbuka mengekspresikan perasaan-perasaannya, demikian kata mereka. Kadang terlihat konyol, tapi syukurlah hampir seluruhnya menggolongkan ku : jujur. Hahahaha...ini melegakan.Tapi tulisan ini bukan tentang kejujuran atau kebohongan, bukan juga tentang A Rafiq. Tetapi tentang 'cuplikan-cuplikan tipis' yang membuat aku mengambil posisi tertentu: "menyukai orang itu" atau "tidak menyukainya sama sekali".

Buatku, A Rafiq adalah entertaint sejati. Dalam sekali lirik, entah mengapa tiba-tiba saja aku menyimpulkan hal tersebut. Sejujurnya aku terhibur dengan entertaint yang ia bawakan, bahkan kadang tertawa terbahak-bahak.Sangat beda jauh dengan apa yang kurasakan terhadap seorang bintang dangdut yang lain. Bang Haji Rhoma Irama. Pertama kali melihat beliau, aku langsung kurang menyukai sosok tersebut. Aku rasa kita bebas suka atau tidak terhadap seseorang. Dan seorang extrovert, pantang untuk bermunafik ria.

Kembali ke Bang Haji. Padahal tidak ada satupun kesalahan yang pernah beliau buat kepadaku. Kenal aja enggak. Apalagi saingan rebutan cewek ! Mana pernah..hahahaha. Tapi yang jelas, aku tidak menyukai Rhoma Irama. Titik.Seorang pemilik bank perkreditan di Bali sana misalnya, yang walaupun secara persyaratan dan segala sesuatunya tetap memilih untuk berpredikat BPR dan menolak gengsinya dinaikkan menjadi ‘Bank Umum’. Sebagian besar orang pastilah menertawakan keputusannya, tetapi pembuktian-pembuktian yang membenarkan keputusan itu lambat laun datanglah. Dan cibir-tawa itupun kini berubah perlahan tapi pasti menjadi sebuah kekaguman.

Entah ini yang dimaksud snap judgement atau thin slicing atau dalam bahasa kita 'cuplikan tipis' oleh Malcolm Gladwell, aku sendiri tidak terlalu yakin. Yang jelas pada beberapa pengusaha senior, aku berkali-kali menyaksikan bahwa mereka mengambil keputusan bukan dengan cara berenang diantara samudera informasi lalu...abrakadabra..simsalabim....tolong dibantu yaaakkk..tolong dibantu.....plok..plok..plok...memutuskan sesuatu.

Tidak, tidak begitu cara mereka. Namun dengan sebuah alat bantu mirip sebuah komputer internal didalam diri ini. Sesuatu yang sering kali disebut sebagai: Intuisi. Demikian kata seorang pengusaha senior yang sempat bertukar pikiran dengan ku mengenai hal ini. Karena setiap orang memilikinya, intuisi, sama sekali tidak dapat digolongkan kepada klenik dan sejenisnya. Tapi parahnya, kendati semua orang memilikinya, tidak semua orang menggunakannya. Padahal intuisi hanya bisa dibangun, suka atau tidak lewat pengalaman benar ataupun salah. Tidak heran jika sebagian besar orang merasa enggan melatihnya, karena latihan ini berkaitan erat dengan resiko. Membawa keberuntungan jika benar, dan membawa 'ke-buntung-an' jika salah. Tertawa jika benar, tersenyum kecut kalau sebaliknya. Nah intuisi inilah yang katanya, masih menurut pengusaha senior diatas, yang bila sudah tajam, akan menjadi senjata dahsyat dalam hidup kita. Dalam bisnis, profesi atau kehidupan sehari-hari. Karena apa, simple sebenarnya : karena hidup ini tentang keputusan. Keputusan tentang apa yang kita pilih untuk kita jalani.

Selagi kita belum dewasa, mungkin orang tua kitalah yang akan memutuskan segala sesuatu untuk kita, namun ketika usia sudah bertambah, seiring tanggung jawab yang juga bertambah, maka suatu saat cepat atau lambat, maka tongkat kendali pasti berada ditangan ini..Nah pada saat itu..berbahagialah orang-orang yang sudah membuat tajam senjata intuisi mereka. Karena dengan cepat...bagaikan pedang bermata dua...sssreeessshhhh...membuat keputusan, yang baru kemudian diikuti bukti-buktinya. So..selamat berlatih..my friend ;) (*)

0 komentar:

Poskan Komentar