Sabtu, 27 Agustus 2011

Harmoni Bali (mulai) Terancam !!

by Made Teddy Artiana



Pengalaman meliput prosesi Hari Raya Nyepi di Bali kali ini memang terbilang diluar skenario. Agak menyedihkan. Bayangkan, hampir 5 tahun lebih aku tidak merasakan Nyepi di Bali (Dalam setahun aku bisa berkunjung sebanyak 3 hingga 4 kali, untuk urusan potret memotret dan tentunya tidak pada Hari Raya Nyepi). Ingatan tentang kehebohan malam pengrupukan dan keheningan dan gelap pekatnya malam Nyepi, sudah membayang dipelupuk mata. Sebagai orang Bali yang lahir dan besar di Bali aku sangat mencintai kampung halamanku. Kecintaan terhadap kampung halaman, mungkin milik semua orang, tetapi aku, lebih dari itu semua. Aku terobsesi. Sebagian orang mengataiku : norak. Biarin ! Hehehe... Apapun itu I realy love Bali.

Semuanya lebih kepada kecintaan yang luar biasa terhadap budaya, adat dan terutama harmoni yang selalu kurasakan disini. Dan kini, ketika rasa rindu itu aku harap dapat terpuaskan –sepuas-puasnya- aku bertemu ‘sesuatu’ yang sama sekali tidak aku harapkan disana. Sesuatu yang sangat mengganggu, cukup membekas dan sejujurnya mengecewakan. Dasar kampreeet !!!

Lokasi yang kupilih adalah Pesanggaran, tidak jauh dari daerah Kuta. Konon prosesi pengrupukan disini demikian meriah. Sebuah spot diperempatan jalan itu menjadi pusat prosesi. Tiba dilokasi kira-kira pukul 09.00 WITA, aku segera sibuk dengan berbagai rencana angle pemotretan. Berjalan hilir mudik, dengan mata jelalatan ke segela arah. Namun sekonyong-konyong telingaku menangkap sebuah bunyi dengung yang semakin jelas, yang tadinya kupikir pengaruh pesawat yang belum netral benar. Bunyi apaan sih ini !? Tak berapa lama kemudian, mataku menangkap sesuatu yang kucurigai sebagai sumber dengungan tersebut. Astagaaaa !!! Itu dia, cerobong segede bagong itu gara-garanya ! Gilaa !! Ini Bali atau Bontang !?! (Kota industri di Kalimantan Timur sana, aku memang sempat beberapa kali kesana untuk pembuatan profile sebuah perusahaan).

Setengah tak percaya aku menatap cerutu raksasa itu dengan bertolak pinggang. Kok bisaa ?!? Tak habis pikir rasanya.

“Memang lagi masalah itu Mas..”, sapa seseorang dari arah belakang.
Seorang Bapak paruh baya, sepertinya penduduk sekitar.
“Dia ?”, tanyaku sambil menunjuk benda yang rasanya kurang pas ada di sana.
“Masalah kenapa Pak ?”, tanyaku balik.
“Yah selain asap, suaranya itu sangat mengganggu sekali Mas”, keluhnya putus asa.
“Terus..kenapa dibiarin ada disitu Pak ?”
“Ah..kaya ndak tahu Indonesia aja Mas ini..”, ujar Si Bapak sinis, “Jangankan AMDAL, pokoknya berdiri dulu, ijin belakangan, persetan sama rakyat. Mau rakyat tuli kek...mau demo sampai serak kek..mau sesak nafas kek...yang penting ‘pencitraaan’ jalan teruusss..”

Aku hanya bisa nyengir asem. Yaah memang benar...beginilah negaraku. Jangankan cerobong asap, lumpur Lapindo seluas itu aja gak keliatan.. yang pasti pencitraan jalan terus...kampret..kaaampreet ..!

Malam pengrupukanpun datanglah, tapi aku masih belum bisa melepaskan pikiran ini dari Si Cerobong Raksasa itu. Nyepi besok, pastinya tidak ‘sesepi’ Nyepi seharusnya, bathinku. Hanya itu yang bolak-balik terlintas, dan berbicara dikepala ini tiada henti. Benar-benar mengganggu. Dan benar, keesokan harinya bunyi dengung itupun bak lebah sumbang terdengar ‘mengganggu’ keheningan Nyepi. Suasana hening ini yang kurindukan, dan aku percaya semua orang Balipun merindukannya. Tapi untuk sebagian wilayah Bali, rupanya mereka harus merelakan dengungan sombong itu merusak keheningan mereka.

(Sedikit penjelasan bagi mereka yang belum pernah merasakan Hari Raya Nyepi di Bali. Di Hari Raya Nyepi ini orang-orang dilarang keluar rumah. Tidak hanya itu segala bunyi-bunyian pun berhenti total hari ini, bahkan lampu. Bali menjadi demikian sepi, gelap dan hening).

Oh iya, aku bukan pemeluk agama Hindu, aku seorang Kristiani. Tetapi beruntung, dari sekolah dasar kelas satu, aku sudah mempelajari agama Hindu. Dan ini sangat menyenangkan. Sejauh yang ku tahu, Hindu memang bukan cuma agama, Hindu adalah budaya. Dan karena budaya, maka cakupannya pun demikian luas dan membumi. Salah satu konsep yang paling aku suka adalah Tri Hita Karana. Secara bebas aku menterjemahkan konsep ini sebagai tiga bentuk keharmonian yang utuh. Aku rasa ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Harmoni dengan alam, harmoni dengan manusia dan harmoni dengan TUHAN. Konsep yang sangat indah.

Sayangnya, justru konsep inilah yang sedang dirusak oleh cerobong sombong itu. Mereka, para pejabat diatas sana mungkin boleh berkoar, industri kelistrikan untuk kesejahteraan rakyat. Topeng yang paling mudah dikenakan, apalagi oleh para oknum politisi : untuk kesejahteraan rakyat. Tetapi bagiku pribadi, jika semua itu mengganggu dan merusak tiga keharmonian diatas, ini bukan lagi kesejahteraan namanya, tapi : kepentingan ! Kepentingan bertopeng kesejahteraan, yang memperkosa keharmonian.

Darimana kesejahteraan akan muncul jika hubungan dengan alam, manusia dan TUHAN terganggu ? Keharmonian adalah dasar dari segala kesejahteraan !

Singkat cerita, aku memutuskan untuk pindah menginap dari daerah itu. Terlalu mengganggu buatku. Bagaimana dengan mereka, ribuan penduduk sekitar sini, yang sehari-hari harus menghirup asap dan mendengar dengungan mesin raksasa itu ? Aku bertaruh mereka pasti muak akan itu semua. Kemudian wisatawan asing, yang lalu lalang dari dan menuju Kuta. Mereka pastinya betanya-tanya dan terganggu dengan pemandangan yang ganjil ini. What the hell is that ??!!!

Dugaanku tak meleset. Terakhir kubaca berita di koran bahwa memang proyek ‘siluman’ itu tanpa ijin, tanpa analisa AMDAL. Rakyat protes. Mahasiswa menganalisa. DPRD rapat. Pemda sibuk. Terus kok bisa berdiri ???!!! “Sim Salabim...tolong dibantu yaaaaakkkk....”. Namanya juga sulap murahan !!

Dan yang paling mengenaskan adalah, bahwa beberapa minggu yang lalu, dari kesaksian penduduk sekitar sana dan cerita seorang teman yang menjadi saksi mata kejadian itu. Tengah malam, ketika sebagaian penduduk sudah terlelap, cerobong asap itu mengeluarkan begitu banyak bara api, yang kemudian diterbangkan angin kesegala penjuru. Mirip ketika kita membakar api unggun kemudian mengobrak-abrik bara api ditengahnya. Dan parahnya bara api itu hinggap tidak saja diatap rumah, tetapi juga di Sanggah (tempat sembahyang umat Hindu di rumah) yang atapnya terbuat dari ijuk dan mudah sekali terbakar. Kejadian ini kontan membuat penduduk ketakutan. Mungkin hanya orang gila yang tidak takut rumah, anak, harta bendanya didekati api !

Dan harmoni itupun kian rusak serusak-rusaknya. Analisa AMDAL yang dipandang remeh, selalu akan menuai bencana. Cepat atau lambat.

Yang menyedihkan adalah, bukan tidak mungkin kejadian akan berulang dan menimpa siapapun kapanpun. Kini dalih kesejahteraan rakyat itu, mohon maaf, lebih mirip teroris yang menebar ketakutan dan kebencian kesegala penjuru. Aku kuatir, jika proyek-proyek seperti ini dibiarkan, dan nantinya ditiru oleh proyek raksasa bebal lainnya, yang menggampangkan dampak buruk terhadap lingkungan. Ini tragis, ditengah gencarnya kampanye Corporate Social Responsibility yang didengungkan berbagai perusahaan swasta (harusnya pemerintah menjadi teladan akan hal ini).

Maka Bali –dalam beberapa tahun- akan terkepung oleh cerobong-cerobong sombong itu dengan sejuta keresahan disana. Dan bukan tidak mungkin pula, Pulau yang karena alam, budaya, agama dan harmoni didalamnya, dikenal sebagai God Island itu, berubah seperti Kota Industri, yang tidak tertata dengan cerdas, kental dengan nuansa kemarahan dan keresahan, mirip dengan adegan di film Volcano, “Hotter than Hell”. Jika sudah demikian pencitraan sebagus apapun akan lebih mirip lawakan memuakkan.



Dengan sebuah pertanyaan turun temurun : “Ngemeng-ngemeng, pada masa pemerintahan siapa sih ini di-bangun (baca : D I R U S A K )...??”

Sedikit pesan untuk mereka yang ber-kepentingan disana : Semoga TUHAN entah itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kongfucu...mengaruniakan sedikit tambahan kepintaran di otak kalian dan segudang hati nurani supaya kalian lebih berhikmat sekaligus lebih manusiawi. Amin. Om Shanti..Shanti..Shanti..Om (*)

0 komentar:

Poskan Komentar